Thursday, January 1, 2009

BENARKAH FALSIFIKASI KARL POPPER?

[Siapa Karl M. Popper]
Karl Raimund Popper, begitu nama lengkapnya, meninggal dunia pada tanggal 17 September 1994. Popper, doktor filsafat yang pernah menganut Komunisme-Marxisme menuju tempat peristirahatannya yang terakhir di London. Dunia keilmuan dan kebudayaan sungguh merasa kehilangan dia. Kecemerlangan pemikirannya sungguh langka sebagaimana terlihat pada penguasaannya di bidang kesusasteraan, seni-musik, fisika, kedokteran, matematika, psikologi, sosiologi, ekonomi, politik dan filsafat. Penguasaannya ini membuktikannya sebagai seorang yang anti vak-idiot, orang yang anti atas arogansi suatu ilmu tertentu. Artinya bahwa ia mengakui satu ilmu tidak memadai tanpa ilmu yang lain. Bahkan, tidak mengherankan kiranya Tommy F. Awuy (1994) menyebut Popper sebagai filsufnya para filsuf dalam sejarah perkembangan pemikiran keilmuan.


[Teori Falsifikasi Popper]
Pemikiran Popper yang kontroversial tentang cara kerja ilmu pengetahuan benar-benar menjadi materi perdebatan, pendukungan dan pembantahan sepanjang dekade belakangan ini. Dialah yang mencetuskan teori falsifikasi sebagai lawan dari cara kerja verifikasi ilmu pengetahuan. Jika kita runut ke belakang sejak munculnya ilmu pengetahuan modern maka hampir tiga abad lamanya para ilmuwan menganggap bahwa metode verifikasi seolah-olah sudah merupakan suatu postulat.

Ilmu pengetahuan yang berdiri di atas dogma verifikatif bagi Popper ilmu itu justru telah kehilangan daya rasional-kritisnya (Schilpp via Awuy, 1994: 5). Dalam rangka konsekuensi keyakinan positivisme Popper menjungkirbalikkan metode verifikasi dengan metode falsifikasi. Menurutnya, cara kerja ilmiah bukanlah bagaimana sebuah pernyataan dapat dinyatakan benar, melainkan bagaimana pernyataan itu dapat dikatakan salah.

Popper akhirnya sampai pada pendirian bahwa di dalam dunia keilmuan, kita senantiasa berhadapan dengan persoalan antara subyek dan obyek dan tidak bisa tidak kita sebenarnya langsung berhadapan dengan masalah. Dari sini ternyata kelirulah prinsip verifikasi yang mendasarkan teori ilmiahnya pada observasi-induktif.


[Falsfikasi pada Epistemologi Ilmu Pengetahuan]
Atas dasar logis apakah ilmu pengetahuan itu dapat berkembang? Jawaban Popper ialah pada sifat rasional dan empiris ilmu pengetahuan itu, dan sifat ini hanya dapat dijelaskan lewat epistemologi. Dari pendekatan epistemologi pulalah kita dapat mempersoalkan kata kebenaran di dalam ilmu pengetahuan. Pembahasan tentang kebenaran ilmiah Popper ini menambah memperjelas maksud falsifikasinya. Namun jawaban Popper di atas tadi agaknya mengingatkan kita pada gagasan kritisisme Immanuel Kant yang mana ia menggabungkan hal yang bersifat rasional dan empiris (Lih.. Sri Boediya, SKI, 611: 16:17).

Kebenaran dalam konteks falsifikasi jelas berbeda dengan kebenaran menurut kaum verifikasionis. Kebenaran tidak ditempatkan secara obyektif dalam arti bagaimana kita dapat meraihnya dalam pengujian empiris, tetapi kebenaran merupakan sebuah masalah (problem setting). Sebagai sebuah masalah, kebenaran senantiasa menyertai usaha pemecahan masalah (problem solving) itu, dalam arti bahwa kebenaran di sini terkait erat dengan logika falsifikasi terhadap isi atau derajat informasi dari pernyataan-pernyataan empiris. Pada akhirnya, sesuai dengan tesis bahwa ilmu pengetahuan dengan dasar rasionalitas empiriknya menentukan perkembangan ilmu secara terus menerus, maka kebenaran pun tidak memiliki pretensi kebenaran, maka pretensi teersebut harus diantisipasi dengan kesadaran bahwa kegiatan ilmiah hanya sanggup melangkah mendekati kebenaran atau menyerupai kebenaran (verisimilitude).

Kebenaran dalam kegiatan ilmiah hanya berlaku sepanjang sebuah teori belum berhadapan dengan sebuah teori tandingan. Dalam hal ini keberlakuan teori tersebut oleh Popper dinamakan corroborated. Tetapi ketika sebuah teori baru sebagai tandingan dapat mengajukan informasi-informasi empiris yang derajatnya lebih tinggi daripada teori yang tadi itu maka teori tersebut dapat dinyatakan SALAH. Tidakkah pernyataan ini mengingatkan kita pada revolusi yang terjadi di bidang linguistik? Ketika lahirnya teori baru Noam Chomsky (1957) tentang tata bahasa generatif yang melumpuhkan teori struktural de Saussure, Bloomfield, dll (1930an)?

Suatu hal, apabila falsifikasi berpendirian bahwa kekuatan sebuah teori terletak pada tingkat informasi empiris yang dapat dinyatakan salah, maka berarti di dalam ilmu pengetahuan kita bukannya belajar dari kebenaran-kebenaran yang ada, melainkan belajar dari kesalahan-kesalahan, demikian falsifikasi ini.

Apabila teori falsifikasi itu kita bawakan kepada prinsip hidup orang Indonesia, entah mana duhulu ayam atau telurnya, sesungguhnya kita dekat dengan frasa atau sebutlah adagium “kegagalan adalah awal keberhasilan”. Bagaimanapun dengan memakai teori falsifikasi itu sendiri dapat diinversikan bahwa teori falsifikasi yang mencari kebenaran itu adalah salah.

Kalau kita ingin menoleh pada linguistik kembali sesungguhnya teori falsifikasi bukanlah suatu realitas yang baru. Dalam nuansa falsifikasi dalam ilmu bahasa itu lebih bersifat metodologis. Tidakkah hal itu serupa dengan adanya kalimat-kalimat affirmatif yang dinegasikan menjadi kalimat-kalimat negatif? Suatu dikotomi bukan. Istilah ini umum disebut ilmuwan sebagai metode oposisi biner (binary opposition).


[Falsifikasi dan Genesis ilmu Pengetahuan]
Yang menjadi masalah sekarang ialah bahwa teori falsifikasi itu bisa salah dan tidak valid. Kevaliditasannya hanya pada unsur-unsur struktur epistemologis saja. Sebaliknya justru tidak berlaku pada unsur yang fundamental. Teori falsifikasi hanya berkotak-katik pada perkembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi ia terbentur pada GENESIS, kelahiran ilmu pengetahuan (baru). Mengapa? Karena suatu pengetahuan (baru) bisa saja tidak berkaitan dengan verifikasi atau falsifikasi. Tidak ada yang dibenarkan dan tidak yang disalahkan. Yang ada hanya sebab kelahiran. Sehingga kita bisa belajar dari sesuatu yang tidak benar atau sesuatu yang tidak salah. Apabila kita belajar dari kebenaran dialah teori verifikatif dan di pihak lain apabila kita belajar dari kesalahan demikianlah teori falsifikatif itu.

Lahirnya ilmu baru tandas tidak ada kebenaran dan tidak ada kesalahan. Sekadar anaolgi mungkin ada. Sebagai contoh, di bumi, kita mengenal ilmu yang mempelajari tentang bumi itu sendiri, baik letak, potensi serta pemetaannya, disebut geografi. Andaikan manusia telah bisa menembus dimensi ruang dan waktu untuk mencapai matahari tanpa lebur ke dalamnya, tentunya ilmuwan akan dapat memerikan seluk beluk matahari ini seperti halnya bumi tadi. Ilmu yang mempelajari tentang matahari ini berikut saya sebut heliografi. Rasanya terlalu berlebihan untuk mengatakan metode penelitian geografi sama dan sebangun dengan metode penelitian heliografi yang super panas itu. Sehingga tidak ada kebenaran geografi yang sekaligus tidak ada kesalahannya mengawali pengamatan heliografi ini. Akhirnya, dalam konteks kelahiran ilmu ini adakah peluang teori ‘kesalahan’ itu justru benar?


DAFTAR PUSTAKA
Awuy, Tommy F, 1994. “Karl Raimund Popper: Sang Filsuf Anti-Dogmatisme itu telah Pergi”. Majalah Horison 09/XXIX/4-8. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta, Indonesia.
Boediyah Soeharto, Sri. Tnp Tahun. “Filsafat Ilmu Pengetahuan. Handout SKI 611. Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM.
Chomsky, Noam, 1957. Syntactic Structure, London: The Hague.
Saussure, Ferdinand de, 19--, Introduction to general linguistics.

FENOMENA BUDAYA BATAK DAN MINANGKABAU:SEBUAH PENGENALAN EMPIRIK

Tumbuh dalam keluarga Batak dan hidup dalam masyarakat Minangkabau agaknya memungkinkan saya untuk mengangkat tulisan ini. Ternyata, fenomena persentuhan dwibudaya atau multibudaya seperti ini tidak hanya dialami oleh saya sendiri, tetapi beribu bahkan berjuta-juta orang. Perkembangan teknologi transportasi dan teknologi global telah mempercepat mobilitas dan arus informasi antardaerah, sehingga pertemuan multietnik, kultur dan bahasa tidak hanya terjadi dalam satu negara tetapi juga sangat mungkin di luar itu. Etnik Batak dan Minangkabau hanyalah 2 sampel dari 500 lebih suku bangsa dan bahasa yang hidup dalam laboratorium alam budaya di Indonesia.

Sebenarnya persentuhan budaya yang banyak dialami orang sekarang ini tidak hanya dengan budayanya sendiri dan budaya lain sebagai pendamping, seperti Batak dan Minangkabau, bahkan lebih daripada itu. Pengenalan saya pertama memang dengan budaya Batak, di keluarga tempat saya dilahirkan. Pola pengasuhan yang teradopsi tentunya mengikuti pola Batak. Namun setelah keluar dari rumah, kebetulan wilayah yang saya tempati bukanlah wilayah kebudayaan (culture area) yang homogen, yaitu terdiri atas satu budaya, tetapi di situ hidup beraneka pemeluk budaya lain seperti Minangkabau, Jawa, Aceh, Melayu yang bahkan keanggotaan mereka hampir-hampir sama banyaknya dengan orang Batak. Namun anehnya bahasa pasar yang dipakai justru cenderung bahasa Minangkabau, seperti ditemukan di sekolah-sekolah, pasar, atau tempat bekerja. Hampir semua pendukung kebudayaan yang berbeda ini dapat dikatakan paham bahasa Minangkabau, tidak terkecuali saya. Apalagi, beruntung saya bisa beradaptasi dan belajar dengan budaya ini secara sedikit khusus hampir 6 tahun di Padang, Sumatera Barat sebelum terdampar di Yogyakarta.

Di Yogyakarta tempat bermukim sekarang ini juga saya temukan miniatur kebudayaan yang sama, bahkan lebih banyak budaya pula. Riau, tepatnya Duri, kabupaten Bengkalis sebagai wilayah asal lahir memang berbeda dari Yogyakarta, tetapi diminati banyak pendukung kebudayaan. Ternyata perbedaan itu menyuburkan Riau dan Yogyakarta sebagai destinasi orang mengadu nasib, di satu sisi Riau dijadikan tempat mengais rezeki berkat tambang minyaknya, di sisi lain Yogyakarta dijadikan tempat menambang ilmu berkat status kota pelajarnya.

Kendatipun migrasi budaya kerap terjadi, darah kebudayaan (genealogis) saya tidak dapat dipungkiri. Cara berpikir bisa saja Minangkabau, Melayu, atau Jawa, tetapi keturunan tetap saja Batak. Dari pertemuan-pertemuan budaya ini, saya mencoba mengkhususkan diri pada budaya Batak dan Minangkabau karena kedua kebudayaan ini memiliki banyak kekhasan dalam pemahaman saya. Permasalahannya adalah apakah dapat kita runut seperangkat nilai penting dari kedua budaya ini untuk memecahkan persoalan yang lebih besar dalam konstelasi kenegaraan (states). Artinya, kebudayaan-kebudayaan lokal dapat memainkan perannya dalam merespresentasikan Indonesia dari sudut pandang luar di mana Indonesia dilihat sebagai negara yang multikultural, multietnik, dan multibahasa, bukan sama sekali disatukan sebagai satu kebudayaan yang pernah diagungkan sebagai kebudayaan nasional atau nasionalisme kebudayaan.
Reinterpretasi terhadap terminologi kebudayaan nasional itu sudah sepatutnya diajukan. Istilah kebudayaan nasional itu tidak hanya mengukuhkan dominasi satu kebudayaan tertentu dalam tatanan kenegaraan tetapi juga berdampak negatif pada subordinasi kebudayaan-kebudayaan lain yang posisinya juga dijamin oleh UUD. Sejalan dengan pandangan ini, seorang budayawan sekaligus sastrawan besar, Mochtar Lubis ) menandaskan nasionalisme kebudayaan itu justru melahirkan neofeodalisme, lemahnya kreatifitas, etos kerja yang buruk, dan budaya tidak tahu malu. Buah pemikiran ini tidak hanya kita saksikan hari ini tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan berbangsa kita. Pengamatan saya justru menambahkan bahwa ekses kemunafikan, neofeodalisme, dstnya itu telah mengembangkan kita sebagai bangsa dan negara yang memiliki budaya utang, budaya sampah dan loak (second class), budaya mengemis, budaya antikualitas, dan budaya korup.

Pengenalan empirik saya terhadap kedua budaya Batak dan Minangkabau ini berupaya sedikit banyak menyumbangkan pemikiran nilai-nilai budaya yang memiliki cita rasa yang sudah tentu vis-a-vis dengan budaya neofeodalisme, lemah kreativitas, dst itu seperti yang diformulasikan Mochtar Lubis di atas.

(Bersambung.... Tulisan ini 15 halaman spasi rangkap, yang tertarik dapat hub penulisnya)

Kerajaan Gaib Gunung Merapi dan Masyarakat Kinahrejo: Sebuah Mitos?

Sailal Arimi, M.Hum
Mitra Peneliti PSAP Angk II

Pak Cipto (65 th) yang lahir 1942 ini sehari-hari bekerja sebagai peternak sapi dan kambing, kadang-kadang ia ikut sebagai penjaga gerbang masuk ke lokasi wisata gunung merapi untuk pendakian atau panorama lereng Merapi. Bapak yang memiliki 3 anak dan 11 cucu ini mengaku adalah generasi ke-5 yang tinggal di desa kinahrejo ini, jika termasuk anak dan cucunya maka mereka masing-masing sudah mencapai generasi ke-6 dan ke-7. Di antara semua generasi itu Pak Cipto menuturkan tidak ada yang menempuh pendidikan tinggi karena keterbatasan biaya, walaupun keinginan untuk itu sebenarnya ada.

Selama sekian puluh tahun hidup di desa kinahrejo ini, pak Cipto merasa hampir tidak ada tradisi yang ditinggalkan masyarakatnya bahkan hingga ke generasi sekarang. Dia menuturkan bahwa kebiasaan dan pandangan-pandangan hidup di merapi yang sekarang ini mereka anut pada prinsipnya berasal dari nenek moyang mereka. Berbagai kebiasaan dan pandangan itu merupakan cara hidup mereka untuk menyeimbangkan alam, mengharmoniskan hubungan alam dan manusianya. Mereka percaya pula bahwa manusia yang nyata mempunyai kerajaan dengan pemerintahannya sendiri, dan alam sekitarnya juga termasuk gunung merapi. Di atas gunung merapi terdapat kerajaan dengan rakyat dan penguasanya. Sang penguasa yang memerintah di atas gunung merapi dipercayai adalah Kyai Sapu Jagad. Kyai Sapu Jagad itu digambarkan sebagai sebagai penunggu yang duduk di singgasananya di kerajaan Merapi. Menariknya kerajaan alam gaib ini memiliki hubungan baik dengan kerajaan Mataram terutama sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX (atau sebelumnya?). Komunikasi antarkerajaan dan antarmasyarakat nyata dan alam gaib ini berlangsung intens dan harmonis. Setiap waktu kerajaan alam gaib ini ingin mengadakan hajatan, masyarakat biasanya diberitahu lewat tamsil mimpi beberapa waktu sebelum hajatan berlangsung. Ada utusan yang datang ke mimpi orang-orang tertentu yang memiliki kelebihan. Orang-orang ini juga dipercayai dapat berkomunikasi dengan utusan-utusan gaib itu. Hajatan yang paling umum adalah peristiwa yang dipahami orang-orang awam sebagai letusan gunung, semburan lava, hembusan awan panas. Lava bagi masyarakat tradisional kinahrejo dan sekitarnya tidak pernah disebut lava tetapi dimetaforakan sebagai sampah, sebagai buangan dari pesta atau hajatan di kerajaan alam gaib itu, sedangkan awan panas disebut wedhus gembel.

Menurut penuturan pak Cipto ketika alam pantai Selatan diguncang gempa dahsyat (26 Mei 2006) yang mengakibatkan kehancuran puluhan ribu rumah dan menelan korban ratusan ribu orang diimbangi dengan letusan gunung merapi yang semburannya menghasilkan pasir jutaan kubik yang diasumsikan dapat dipergunakan untuk membangun kembali rumah yang roboh di Bantul dan sekitarnya. Sejalan dengan kepercayaan ini, seorang informan lain mengatakan bahwa sebelum kejadian gempa besar di Bantul seorang utusan telah datang membawa berita bahwa penguasa alam gaib ini murka akibat ulah manusia dan akan menggoyang bumi dan menggetarkan manusia. Walaupun dipahami yang mendapat wangsit bermimpi bahwa utusan tersebut adalah orang biasa yang datang dari kerajaan alam gaib gunung Merapi, tetapi kedatangan orang biasa itu ditafsirkan tidak biasa. Tafsirannya adalah bahwa kerajaan alam gaib merapi akan mengadakan hajatan di gunung. Dengan tafsiran klasik ini, masyarakat dipahamkan akan ada letusan atau semburan lava ke lereng gunung merapi. Walaupun berselang agak lama dari tafsir mimpi itu, kejadian letusan akhirnya juga terjadi pada 14 Juni 2006 yang menghasilkan timbunan pasir yang jumlahnya sangat banyak. Proses penyeimbangan alam berjalan dengan baik, demikian dirasakan masyarakat gunung Merapi.

Simbiose hidup alam gaib dengan alam kasat mata seperti digambarkan di atas sama persis seperti dituturkan mbah Marijan, juru kunci Merapi, yaitu orang yang ditugaskan keraton Mataram Yogyakarta untuk menjaga merapi. Sebagai juru kunci masyarakat mempercayai bahwa mbah Marijan ini memiliki kelebihan. Sebagai abdi dalem berpangkat penewu, ia berkewajiban memberi laporan dan informasi kepada Sultan sehubungan dengan aktivitas merapi termasuk secara nonkasatmata.

Pak Cipto juga menceritakan apa dan bagaimana upacara-upacara yang dilakukan setiap tahun terhadap Merapi dan lingkungan alamnya. Setiap tanggal 29 bulan Rajab upacara besar Labuhan dilakukan. Pada upacara ini dibawa sesaji ke atas gunung merapi untuk dipesembahkan kepada sang penguasa gunung. Pada bulan Zulkaedah, masyarakat sekitar kinahrejo melakukan upacara dandan kali yaitu upacara agar kali yang mengalirkan air dari gunung terus berlimpah takberkurang untuk konsumsi masyarakat. Ritual ini mereka lakukan dengan menyembelih kambing, dan membawakan sesaji hasil masakannya ke hulu kali. Dulu kambing sesembahan ini disembelih langsung di hulu kali, tetapi sekarang di rumah masyarakat di hilir. Setelah disembelih dan dimasak, masyarakat berkumpul di rumah salah seorang tokoh yang bernama pak Widji untuk mengadakan doa selamatan. Setelah ini prosesi berikutnya sesaji diantarkan ke atas hulu sungai.

Pengetahuan-pengetahuan lokal yang terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi adalah bahwa masyarakat tidak boleh menebang pohon di hutan gunung merapi. Masyarakat hanya boleh mengambil rumput yang tumbuh di sekitar hutan untuk pakan ternak. Kayu-kayu yang dapat diambil adalah kayu-kayu kering yang berasal tetumbangan pohon. Jika pohon-pohon itu tumbang karena tua atau pengaruh cuaca dan angin, masyarakat juga tidak berani mengambilnya apabila masih basah karena dikuatirkan akan dituduh menebang pohon di hutan. Oleh karena itu, pohon-pohon dan rantingnya harus betul-betul kering.

Selain itu, masyarakat sangat percaya bahwa desa kinahrejo tidak akan pernah terkena semburan atau aliran sampah merapi (baca: lava). Kepercayaan ini dilatarbelakangi dari pemahaman bahwa desa kinahrejo, kali adem merupakan halaman depan dari istana kerajaan alam gaib merapi. Seperti lazimnya sampah rumah tangga, manusia biasanya membuang sampah tidak di halaman depan, tetapi di samping kanan atau kiri bagian rumah. Oleh karena itu sisi kanan kali Krasak dan samping kiri kali Gendonglah yang menjadi tempat pembuang sampah hajatan gunung merapi. Demikianlah masyarakat gunung merapi bersikukuh untuk tidak berkenan dievakuasi ketika gunung merapi meletus atau mengeluarkan awan panas. Apakah ini sebuah mitos?

(Tulisan ini dimuat di NewsLetter PSAP UGM Edisi Juni 2008)

Maaf Tidak Menerima Wawancara?

Pengalaman 2 minggu pertama saya turun ke lapangan penelitian secara teknis sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi secara kebudayaan mungkin ada yang mengejutkan. Sebagai perantau yang telah 11 tahun tinggal di tanah Jawa, saya mulai terbiasa, mungkin juga agak akrab dengan kehidupan di Yogyakarta. Namun demikian, sebagai orang Mandailing yang besar di bumi Lancang Kuning, Riau, ketika saya mulai melihat, memasang telinga, memperhatikan, mengajak bicara, maka di situ saya melihat keberagaman budaya. Terutama tentang kebangsawanan atau kepriyayian, secara pribadi saya mulai terkesima, tetapi saya akui orang lain mungkin saja tidak. Mengapa? Karena sejumlah tanda-tanda, simbol, nilai-nilai budaya yang saya lihat bagi orang lain terutama bagi mayoritas orang Jawa di Yogyakarta bukan sesuatu yang baru lagi. Bagi sebagian besar mereka kebudayaan itu menjadi bagian dari perilaku sehari-hari mereka. Namun demikian, melihat sistem tanda kebudayaan itu dari perspektif pemilik kebudayaan itu sendiri menjadi ketertarikan tersendiri yang ingin saya amati di sini.

Tepat pada tanggal 3 Agustus 2006 terhitung efektif saya melakukan pengamatan terhadap fenomena kepriyayian yang berkaitan dengan simbol-simbol linguistik di dusun Malang, di kecamatan Caturharjo, Sleman itu. Sebagai tempat awal penelitian ini dilakukan, saya melihat masyarakat dusun ini disibukkan dengan persiapan menyambut HUT RI ke 61. Sebagaimana lazimnya di desa-desa, di dusun Malang juga diadakan berbagai lomba untuk orang dewasa maupun anak-anak. Dari lomba volley sampai dengan lomba makan kerupuk dipersiapkan untuk dilaporkan pada malam tirakatan, suatu malam yang diperuntukkan untuk perenungan akan masa perjuangan kemerdekaan.

Terus terang sebelum melakukan penelitian di titik pengamatan ini, saya dan keluarga baru 2 bulan pasca-gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 pindah ke dusun ini. Jadi perkenalan saya dengan penduduk lokal dan adaptasi dengan lingkungan sekitarnya sudah dilakukan sebelumnya. Sebagai warga dusun Malang, saya harus mengikuti berbagai kegiatan sosial termasuk budaya yang diselenggarakan, seperti berbagai macam kenduren, pentas seni, peringatan HUT RI, arisan, pengajian hingga kerja bakti, dan ronda malam. Kebetulan sekali, dari berbagai kegiatan sosial tersebut saya dapat membuat sejumlah identifikasi dan kategorisasi termasuk subjek penelitian yang dapat saya wawancarai.

Pengalaman menarik bagi saya adalah mengikuti ritual kenduren. Dalam literatur terbatas yang saya baca, salah satu budaya Jawa yang kental adalah ritual kenduren ini. Betul, menurut hemat saya penduduk dusun ini terlalu sering menyelenggarakan ritual ini, bermacam-macam maksud dan tujuannya. Ada kenduren yang menyangkut kelahiran bayi yang dalam wacana budaya Batak Angkola Mandailing disebut upacara siriaon, yaitu acara kegembiraan, ada pula ritual kenduren kematian yang dalam budaya ibu saya disebut siluluton, yaitu acara dukacita. Dalam rentang waktu itu, ada sekitar 4 atau 5 kali saya mengikuti acara semacam, bahkan karena saya belum pulang ke rumah ada pula besekan yang dibawakan tetangga. Katanya, di rumah Bapak Anu ada kenduren.

Karena tidak semua ritual kenduren atau selametan yang dapat saya ikuti dalam waktu terbatas ini, maka saya ingin mendapatkan informasi yang lengkap apa saja kenduren yang diselenggarakan di dusun ini. Oleh karena itu, saya merasa perlu mewawancarai tokoh adat atau budaya di sini. Ketika saya mengikuti kenduren 1000 hari kematian seorang istri sesepuh di dusun ini, saya sempat menanyakan apa betul almarhumah tersebut seorang ”Nyai”. Yang saya tahu Nyai itu sebutan guru di pondok pesantren. Tuan rumah mengatakan bahwa Nyai merupakan sebutan pada seorang wanita yang telah meninggal dunia. Tampaknya term of address ini sebagai honorifik terhadap orang yang meninggal dunia, khusus pada kaum perempuan yang terhormat.

Dua minggu telah berlalu. Saya mulai merenungkan hasil pengamatan dan sedikit wawancara yang saya dapatkan. Saya mulai membalik-balik buku yang sudah saya kumpulkan, ternyata cukup banyak buku yang telah menulis tentang topik ini baik penulis lokal maupun penulis luar. Saya mulai berpikir jika saya menuliskan ritual semacam ini berarti saya menulis ulang, sesuatu aktivitas yang kurang menarik karena kerja recycle seperti ini hanya memberi ruang interpretasi ulang pula. Hasilnya bisa saja sama atau berbeda, sangat relatif aktualitasnya.

Pengamatan saya tentang kepriyayian Jawa yang embedded dalam setiap aktivitas sosial budaya yang saya maksudkan dalam usulan penelitian ini masih kering. Interaksi-interaksi yang dimediasi oleh bahasa Jawa dan tingkatannya akan menunjukkan identitas priyayi itu sendiri. Saya teringat dengan masukan dari diskusi awal di PSAP untuk menyertakan mbah Marijan, sang juru kunci Merapi yang diangkat keraton Yogyakarta sebagai informan kunci dalam penelitian ini. Kenapa tidak, pikir saya. Walaupun mbah Marijan sekarang ini disebut orang penting karena popularitasnya yang meroket, sebagai juru kunci dan selebritis iklan, saya tetap ingin bertemu dan mewawancarai beliau. Saya akan menarik titik pengamatan dari Sleman Selatan ke Sleman paling Utara. Untuk observasi ke desa Kinahrejo tempat tinggal mbah Marijan ini mungkin perlu dipersiapkan surat pengantar kalau-kalau mbah Marijan tidak dapat menerima wawancara seperti yang saya baca dalam buku yang menulis tentang dirinya. ”Maaf, Tidak Menerima Wawancara”.

Thursday, November 23, 2006

KEPRIYAYIAN “SANG PRESIDEN MERAPI”

Sailal Arimi S.S., M.Hum
Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya dan
Mitra Peneliti PSAP UGM


1. PENGANTAR
Apakah sesungguhnya “priyayi” itu?; status kelas?, pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi?, atau sekadar gaya hidup?. Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab Umar Kayam (1992) secara naratif dalam karya sastranya yang syarat dengan kearifan lokal Jawa. Di dalam karyanya itu Kayam menuturkan bahwa cucu-cucu Soedarsono hidup menjadi anak zaman kelas menengah birokrat yang manja, idealis kiri yang terlibat gestapu. Sebaliknya Lantip anak jadah dari keponakan jauh Soedarsono tampil sebagai pahlawan. Dialah yang dengan caranya sendiri menunjukkan makna “priyayi” dan “kepriyayian” itu, demikian ungkap Kayam (1992) dalam novelnya yang terkenal “Para Priyayi”.
Ilustrasi di atas dipandang tepat untuk membuka ruang diskusi perihal makna kepriyayian bagi masyarakat Jawa. Wacana apakah sebenarnya “priyayi” itu sendiri dan hubungannya dengan status kelas, pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi atau sekadar gaya hidup akan dicoba didialogkan dalam tulisan ini. Observasi yang dilakukan di lereng gunung Merapi, tepatnya desa Kinahrejo, telah berhasil mengungkapkan bagaimana hidup dan perilaku seorang priyayi yang dikenal dengan panggilan Mbah Marijan, sang juru kunci gunung Merapi yang menurut pengakuan masyarakat sekitar desa tersebut dipandang dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kepriyayian itu.
Pertanyaan lain sebenarnya harus diajukan pula di awal tulisan ini, “mengapa mbah Marijan yang diamati?” Fenomena sosial budaya yang melekat pada diri R. Ng. Suraksohargo ini merupakan alasan pertama yang dipertimbangkan sangat menarik untuk dicermati. Sosok Marijan yang dikenal masyarakat teguh memeluk pendiriannya merupakan tokoh penting tidak hanya di tingkat desa Kinahrejo, tetapi juga di tingkat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dia merupakan pegawai Keraton Yogyakarta yang ditugasi Sultan Hamengkubuwono IX untuk “menunggui” sang gunung Merapi yang disinyalir salah satu gunung paling aktif di dunia. Karena kehandalannya dalam melaksanakan tugas sebagai juru kunci, Marijan dipandang hormat dan berwibawa oleh masyarakatnya.
Alasan kedua adalah bahwa sosok Marijan yang lama tidak dikenal luas kini menjadi selebritis baru yang dibesarkan oleh media. Ekspos peristiwa 14 Juni 2006 yang diprediksi para ahli akan terjadi letusan dahsyat gunung Merapi ternyata isapan jempol belaka. Marijan dan pengikutnya bersikukuh tinggal di lereng gunung tersebut, walaupun masyarakat banyak diperintahkan oleh pemerintah untuk dievakuasi ke daerah pengungsian sekitar belasan hingga dua puluhan kilometer dari puncak gunung Merapi. Baik media lokal, nasional, bahkan global melakukan liputan terhadap aktivitas gunung merapi waktu itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa sosok Marijan ketika itu menjadi narasumber pokok sehubungan dengan pemantauan harian sang gunung. Ia seakan menjadi ikon gunung Merapi. Karena posisinya yang penting, ketokohannya yang dihormati, dan pendiriannya yang menentang fatwa Sultan Hamengkubuwono X dan Wapres Jusuf Kalla, ia pun semakin diover-exposed oleh media. Marijan mempunyai nilai jual pers dan karena itu ia pun dijadikan bintang iklan orang pemberani dalam sebuah produk minuman berenergi di Indonesia.
Agaknya alasan yang paling penting mengapa sosok Marijan tepat dalam pengamatan ini adalah bahwa Marijan seorang priyayi, yang menurut klasifikasi Sartono Kartodirjo (1987) ia tergolong priyayi cilik, yaitu priyayi yang bukan keluarga dan kerabat raja. Walaupun disebut priyayi cilik, orang seperti Marijan tetap dipandang priyayi karena meminjam istilah Kuntowijoyo (2005: 45) ia dapat dikelompokkan dalam priyayi yang bekerja untuk kerajaan (parentah ageng). Seorang priyayi cilik atau parentah ageng menurut hemat penulis menarik untuk diamati karena dia menjadi ‘para-yayi’ (kerabat raja) bukan sebab geneologis atau garis keturunan, melainkan bekerja untuk raja sebagai abdi dalem, diangkat oleh Raja dan diberi pangkat. Bagaimana seorang Marijan menjadi priyayi menjadi titik tolak utama tulisan ini untuk menangkap fenomena kepriyayian dalam masyarakat Jawa.


2. MARIJAN DAN DESA AJAIB KINAHREJO
Marijan kecil lahir pada tahun 1923, tumbuh dan besar di desa Kinahrejo, sebuah desa yang terletak paling Utara kota Yogyakarta. Desa ini berjarak lebih kurang 22 km dari pusat kota dan hanya bisa diakses lewat jalan darat. Sejak zaman kolonial Belanda dan Jepang, menurut penuturan Mbah Marijan, pencarian penduduk di desa ini adalah bercocok tanam dan menambang pasir. Jika tidak musim tanam atau panen, sebagian penduduk desa ada mencari kayu bakar dan menjualnya di pasar Pakem. Sekarang ini desa ini dikenal luas masyarakat Yogya sebagai posko pendakian gunung Merapi. Ada dua posko pendakian yang tercatat dari arah Utara Yogyakarta ini, yaitu satu terletak persis di rumah kediaman juru kunci mbah Marijan, dan yang lain terletak agak ke selatan kira-kira 1 km persis di rumah kediaman juru kunci kedua yaitu Mbah Pujowijono atau dipanggil akrab Mbah Pujo. Selain mbah Marijan jadi ada juru kunci lain yaitu Mbah Pujo ini. Menurut pengakuan Mbah Pujo sendiri, ia merupakan juru kunci muda yang sifatnya masih dimagangkan kepada mbah Marijan. Orang di sekitar menceritakan di mana ada Mbah Marijan di situ ada Mbah Pujo, tetapi tidak sebaliknya. Artinya, sosok Pujo saat ini masih dipandang sebagai tangan kanannya mbah Marijan.
Jika diamati betul desa Kinahrejo ini memang terbilang desa tua. Hal ini terlihat dari rumah-rumah tua yang tersisa dan orang-orang yang seumur mbah Marijan bahkan lebih tua yang tinggal di desa ini bukan merupakan generasi pertama. Seperti pengakuan Mbah Marijan, orang tuanya yang juga juru kunci Merapi lahir dan besar di desa ini juga. Sayang tidak didapatkan informasi apakah kakek dari Marijan juga berasal dari desa ini. Berdasarkan cerita lisan nama desa kinahrejo berasal dari dua kata, yaitu kinah dan rejo. Kinah artinya pohon kina, sedangkan rejo artinya makmur. Demikian kinahrejo artinya makmur kina, atau tempat yang banyak menghasilkan pohon kina. Konon dahulu kina yang belakangan diketahui sebagai obat penyakit malaria banyak ditemukan di lereng gunung Merapi ini. Menurut sumber cerita yang lain, ketika letusan gunung Merapi yang maha hebat terjadi pada 1006 penduduk di sekitar lereng Merapi ini juga sudah ada. Kedahsyatan letusan ini berdasarkan cerita itu telah menimbun sebagian istana kerajaan Mataram dan sejumlah candi tempat peribadatan. Karena peristiwa ini istana kerajaan Mataram direlokasi dan candi-candi dibangun di tempat-tempat lain.
Dari desa Kinahrejo ini banyak cerita-cerita rakyat yang dapat dilukiskan ulang. Mitos bahwa gunung Merapi merupakan pusat kerajaan gaib yang dikuasai Kyai Sapu Jagad, kakak kandung dari Nyai Loro Kidul yang menguasai laut Selatan adalah bagian folklor yang melekat pada masyarakat Kinahrejo khususnya, dan masyarakat Jawa Yogyakarta umumnya. Hubungan antara Merapi, Keraton, dan Laut Selatan digambarkan sebagai sebuah garis imajiner yang melambangkan hubungan pria dan wanita. Tugu yang terletak di tengah garis imajiner itu melambangkan kejantanan sedangkan alun-alun merupakan perlambang kewanitaan.
Sampai pada menjelang gempa bumi Yogyakarta yang menelan korban ratusan ribu orang pada 27 Mei 2006 tempo hari, hingga aktivitas gunung merapi yang mengeluarkan awan panas serta aliran lava pada 14 Juni 2006 lalu, dari desa kinahrejo ini tidak lengang didapati cerita-cerita rakyat. Salah satu yang menarik adalah peristiwa keluarnya wedhus gembel (awan panas) dan letusan gunung yang menyemburkan lava pijar dari kawahnya ternyata tidak menelan korban penduduk desa Kinahrejo. Walaupun ada 2 orang relawan yang tewas karena bermaksud menyelamatkan diri dari lava dan masuk ke bunker, namun korban bukan penduduk setempat. Berdasarkan prediksi ilmuwan, awan panas yang timbul akibat letusan ini bersuhu 700 derajat celcius dan secara logika panas setinggi itu akan membakar hangus hingga jarak beberapa kilometer. Ajaibnya penulis menyaksikan sendiri bahwa rumah-rumah penduduk di sekitar kediaman Mbah Marijan masih berdiri kokoh dan tidak rusak sedikitpun. Mbah Marijan dan pengikutnya yang bersikeras tidak mau turun gunung atas perintah Sultan Hamengkubuwono X dan Wapres Jusuf Kalla juga terlihat segar bugar tidak kurang satu apapun. Masyarakat lokal kinahrejo yang percaya dengan klenik memberikan tafsirannya masing-masing mengenai tidak berlakunya prediksi pemerintah dan mungkin juga para ilmuwan. Panas yang luar biasa ternyata tidak membuat Mbah Marijan dan pengikutnya hangus terbakar.


3. KEPRIYAYIAN MAS PENEWU MARIJAN
Lebih kurang dua minggu, peneliti mengumpulkan informasi tentang Mbah Marijan. Ada informasi yang menyebutkan bahwa dia tidak menerima tamu untuk wawancara karena kesibukan dan sebagainya. Akhirnya pada hari Minggu, 17 September 2006 sekitar pukul 10.30 pagi menjelang siang, saya dan dua orang teman pembantu bahasa disambut baik oleh Mbah Marijan di ruang tamu utamanya. Kesan selebriti yang dibesar-besarkan media massa nyaris tidak terlihat di raut wajahnya yang ramah, mudah senyum dan suka guyon, begitu pula dari sikapnya mempersilahkan semua tamu yang ingin bersilaturahmi dengannya. Namun demikian, kenyataan bahwa hampir setiap hari beliau dikunjungi puluhan bahkan ratusan tamu dari berbagai daerah dan tujuan adalah betul adanya. Dengan kondisi demikian itu, kami pun tidak bisa mendapat waktu khusus untuk berbincang-bincang kecuali “disambi” dengan tamu-tamu lain. Menariknya secara tidak sengaja kami di satu sisi ikut berbincang-bincang langsung dengan narasumber, dan di sisi lain dapat pula mengamati bagaimana perilaku orang lain dan mbah Marijan tersebut melayani satu sama lainnya.

Mbah Marijan dengan penampilannya yang khas yaitu berkemeja batik, berkopiah dan mengenakan sarung kotak-kotak menyambut setiap tamunya dengan pertanyaan basa-basi “Sinten niki?” (Siapa ini?). Ada yang menjawab niki saking Deperindang Jawa Tengah Mbah, ada pula niki bade foto mawon Mbah… Saget Mbah?...(Ini ingin berfoto dengan Mbah? Boleh?). Seringnya Mbah Marijan melontarkan guyonnya, misalnya kepada yang ingin berfoto bersamanya, Nek mboten isin nggih….(kalau tidak malu ya…). Tamu yang hadirpun tertawa.
Lebih kurang setiap lima belas menit, ada tamu yang masuk setelah tamu lainnya keluar. Kadang-kadang jika terlihat masih ada kursi yang kosong para tamu pun memberanikan diri bergabung dengan tamu lainnya. Macam-macam cara mereka mengawali pertemuan mereka dengan mbah Marijan sang juru kunci itu. Ada yang mengucapkan salam, “Assalamualaikum…”, ada yang memberi salam “Kulonuwun…?” ada pula yang mengatakan “Akhirnya…, ketemu juga dengan Mbah Marijan” dengan gaya akrab. Setelah itu mereka menjabat tangan mbah Marijan. Terlihat ada yang mencium tangan, ada yang bersalaman sambil menunduk, adapula yang berjabatan tangan biasa.
Memperhatikan suasana ruang tamu itu dengan saksama terlihat bahwa tata ruang telah disusun rapi untuk menyambut para tamu yang berkunjung. Kursi-kursi disusun seperti huruf U yang salah sisinya kursi-kursi disusun dua baris. Di atas meja sudah tersedia berbagai “cemilan” yang kebanyakan terdiri atas kue-kue kering di dalam stoples berikut minuman mineral gelas. Sesekali Mbah Marijan mempersilahkan mencicipi hidangan yang tersedia. “Niki mboten fantasi lho….” (Ini bukan dibuat fantasi lho), ujarnya mempersilahkan. Selain itu, para tamu juga bisa berbincang-bincang sambil melihat-lihat album foto yang ada dan sebagian sudah kelihatan kumal. Bagi yang ingin mengisi buku tamu, tampaknya anggota keluarga mbah Marijan telah pula menyediakan buku tamu dan pena. Kami bertiga ikut mengisi buku tamu itu sambil melihat begitu banyaknya yang ikut menulis maksud dan tujuannya.
Ketika satu rombongan beralih dengan rombongan lainnya, kami dengan santai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya telah disampaikan bahwa niat kedatangan kami ingin bersilaturrahmi dan belajar dari Mbah Marijan mengenai kearifan. Menariknya ketika kami tanyakan mengenai kepriyayian, beliau mengelak disebut priyayi. “Kulo mboten piyayi”, katanya. Namun, Dengan bahasa yang rendah hati mbah Marijan mengatakan bahwa ia tidak kuat menjadi priyayi,. “Harus disiplin”, katanya. Padahal orang disiplin itu tidak disukai orang banyak, tambahnya. “Harus begini harus begitu. Jika disukai orang banyak berarti sedikit teman, yah hidup menjadi tidak enak…”, jelasnya.
Menurut pendapat Marijan bahwa priyayi itu adalah “Pangkat luhur gelagah pangkat”. “Orang yang menjadi priyayi misalnya lurah, pegawai negeri, termasuk orang-orang sekolahan, guru, dan dosen”, tuturnya. Menariknya ketika ditanyakan apakah mbah Marijan termasuk priyayi. Dia menjawab tidak karena menurut dia priyayi kuat memegang disiplin. “Kalau kita sangat disiplin sedikit temannya”, jelasnya. Ada pengalaman metode penelitian dalam konteks wawancara kepriyayian ini. Kepriyayian adalah status sosial yang terhormat di masyarakat. Jika seseorang menanyakan perihal status ini, seringkali jawabannya mengelak agar tidak menunjukkan kesombongan. Status lain semisal adalah pertanyaan tentang basa-basi atau kekayaan. ”Apakah Anda berbasa-basi?” Atau ”Apakah Anda kaya?” dan sebagainya.
Definisi kepriyayian sebetulnya jelas seperti diungkapkan di bagian muka. Priyayi secara genetis adalah priyayi dalam pengertian harafiah, ”para - yayi” yang artinya adik raja. Dapat pula pengertian ini diperluas sebagai saudara-saudara dan kerabat yang memiliki hubungan darah dengan Raja. Priyayi yang nongenetis adalah priyayi yang diangkat dan bekerja untuk Raja (parentah hageng) dan priyayi karena keterpelajarannya guru, dosen, lurah, dan sebagainya. Dari batasan ini sebenarnya jelas bahwa juru kunci yang diangkat Keraton Yogyakarta sejak Kesultanan Hamengkubuwono IX dan berpangkat Mas Penewu Surakso Hargo ini adalah abdi dalem keraton yang dipekerjakan untuk menjaga gunung Merapi.
Awal mula Marijan diangkat menjadi juru kunci adalah setelah ayahnya yang juga juru kunci Merapi meninggal dunia. Ketika ditanyakan ”Wiwit abdi dalem umur pinten…?” (Mulai menjadi abdi dalem umur berapa?”). Namun pertanyaan itu dijawab mbah Marijan ”Tahun pitung puluh papat” (”Tahun 1974”), yaitu tahun pengangkatannya menjadi juru kunci Merapi. Menurut penuturan mbah Marijan bahwa tugasnya sebagai juru kunci adalah keturunan karena ayahnya.
Setelah mengetahui sedikit informasi itu, peneliti dan pembantu bahasa beralih mempelajari perilaku kepriyayian seorang Marijan sang abdi dalem keraton yang khusus menjaga gunung Merapi ini. Kami tidak lagi menanyakan kepriyayian beliau, tetapi mengajak berbincang soal bagaimana sejarah hidup beliau sejak kecil dan minta diajari bagaimana belajar hidup, menjadi ”orang” dan mengorangkan orang lain. Menjelang pukul 13.30 siang kami mengakhiri percakapan yang cukup melelahkan itu walaupun disadari percakapan itu diselang-selingi berbagai rombongan tamu. Tanpa kami sadari kami telah menyita waktu mbah Marijan untuk istirahat makan siang. Setelah itu kami pun pamit dan mengambil foto bersama. Kami kemudian berpindah tempat ke warung di belakang rumah mbah Marijan yang kebetulan warung putri kandung beliau. Setelah berbincang-bincang sambil makan siang di sana, kami coba mengumpulkan informasi lain di warung utara rumah yang sama, yang kebetulan juga kerabat dekat mbah Marijan. Perjalanan penelitian kami hari itu sampai usai Magrib sekitar pukul 19.00. Kami sedikit beruntung karena ada warga sekitar yang bisa kami wawancarai, relawan pemantau aktivitas Merapi dan Mbah Pujowijono, juru kunci muda.
Dari berbagai informasi yang saling dikroscek, peneliti berpendapat bahwa kepriyayian mbah Marijan itu bisa digambarkan ke dalam beberapa ciri, antara lain sikap kebersahajaan, sikap nrimo, berjiwa sosial dan loma, enakan atau sikap lentur, polos dan jujur, andhap ashor atau rendah hati. Walaupun ciri-ciri semacam ini bisa dipersoalkan karena ada banyak kemungkinan bahwa orang yang bukan priyayi juga bersikap atau berperilaku yang sama. Namun simbol-simbol yang disampaikan mbah Marijan dan mbah Pujo bahwa menjadi abdi dalem keraton itu tidak selalu enak merupakan indikasi kekonsistenan perilaku. Artinya mereka harus menjaga perilaku dan menjadi panutan bagi masyarakatnya.

3.1. Kebersahajaan
Masalah hidup itu bermacam-macam menurut Marijan. Kegiatan hidup merupakan semacam pilihan. ”Kalau hidup orang pintar itu rezekinya banyak, relasinya juga banyak. Kalau orang bodoh lebih-lebih yang tidak punya hubungan..ya rezekinya sedikit saja”, tuturnya. Ketika ditanyakan bagaimana hidupnya Marijan kecil. Dengan polos ia menceritakan bahwa dulu ia cari makan dari mencari kayu. ”Dari sini jalan ke Pakem 15 km, berangkat jam 4 pagi sampai jam 8. kalau belum dibeli orang bisa sampai jam 11 siang lalu pulang sampai jam 3 sore”. Waktu zaman penjajahan tuturnya, ”Di sini dulu makan telo jagung. Sekalian daun-daun ketelo sebagai sayurannnya. Ya itu dulu makannya tidak terhormat, seadanya. Lebih praktis sekarang ada kemajuan, dulu nggak bisa beli nasi, sekarang bisa pakai mi instan telor. Yang pokok sekarang ada mi, sudah penuh (kenyang).”
Ilustrasi yang diberikan Marijan di atas sebenarnya dapat menggambarkan latar belakang kehidupannya. Marijan berasal dari keluarga sederhana dan biasa hidup prihatin. Walaupun sekarang terlihat kehidupannya sudah jauh berubah, kebersahajaan gaya hidupnya masih terlihat dari penampilannya. Kemeja batik, sarung dan kopiah merupakan ciri khasnya yang menonjol selain rokok putih kegemarannya. “Saya itu roda dua ya punya roda empat ya punya, tetapi bengsinnya ya akua (air mineral). Kalau mendaki gunung merapi ya menggunakan roda empat. Ya..itu merangkak (sambil menunjukkan dua tangannya seperti merangkak)”, demikian guyon mbah Marijan yang memberi makna bahwa dia tidak mempunayi sepeda motor apalagi mobil.
Belakangan ini, Mbah Marijan bersama petinju Indonesia terkenal mendapat tawaran bintang iklan. Konon honorarium yang diterima mbah Marijan sejumlah ratusan juta rupiah, bahkan ada yang mengatakan proyek iklan itu mencapai dua milyar rupiah. Bagi Mbah Marijan honorarium itu sangat besar dan dia tidak ingin memegangnya. “Saya stress menerima duit (sebesar itu), akunya. Terdengar selentingan bahwa ia membagi-bagikan kepada masyarakat sekitar. Setelah kami konfirmasi kepada masyarakat, ternyata benar. Mbah Marijan membagi-bagi masyarakat sejumlah seratus ribu rupiah per rumah tangga. Menurut filosofinya, hidup itu “golek jeneng mboten golek jenang” (mencari kemuliaan bukan mencari harta benda).

3.2 Sikap Nrimo
Pasrah dengan kehidupan yang ia terima merupakan salah satu filosofi hidup Marijan. Agar hidup tentram menurutnya kita harus pasrah. Kalau kita tidak pasrah maka kita akan menjadi lebih stress. Tentang peristiwa semburan lava dan awan panas belakangan ini, ia berpendapat bahwa peristiwa itu juga harus diterima dan diberi makna. Ketika ditanya, “Yen kahangan Merapi sak niki pripun Mbah?” (“Bagaimana keadaan merapi sekarang ini Mbah?”). Jawabnya, ”Yen kahangan merapi niki biasa mawon. Gunung Merapi niku isih utuh digendong. Wis tau metuka liku-liku zaman londo ndadalke nderetek beteng-benteng.[...] Rah sah wedhi ming yo ojo wani. Nggeh..., Ojo wedhi ojo wani.” (keadaan Merapi sekarang biasa saja. Gunung Merapi itu masih perlu dituntun, Sudah tahu dari pengalaman zaman dahulu. Tidak usah takut, tetapi ya jangan berani. Ya..jangan takut jangan berani.”
Sikap kepasrahan abdi dalem ini juga terlihat ketika ditanya berapa gaji untuk seorang abdi dalam berpangkat Penewu. Gajinya setiap bulan adalah satu juta delapan ribu, katanya. Akan tetapi satu juta itu dipotong jadi tinggal delapan ribu, jelasnya dengan maksud bergurau. Yang terakhir itulah gaji mbah Marijan. Walaupun dengan gaji sebesar itu, mbah Marijan terlihat tidak merasa ingin dikasihani. Dia tidak mengeluh dengan kepasrahannya itu.

3.3 Jiwa Sosial dan Loma
Menarik untuk dicermati ketika seseorang tidak mengelola harta yang berlimpah tetapi dia masih mempunyai jiwa sosial. Jiwa sosial demikian sebenarnya menggambarkan figur mbah Marijan di mata masyarakatnya. Rizki yang diterimanya seperti dijelaskan pada poin 3.1 menunjukkan betapa pedulinya mbah Marijan pada kebersamaan. Sebagian orang mengatakan sifat loma [baca: lomo] mbah Marijan ini sebenarnya menunjukkan kepriyayiannya sehingga di mata masyarakat seorang priyayi banyak memberi tidak hanya ketenangan berkaitan dengan aktivitas gunung Merapi tetapi juga materi. Selain itu, gaya hidup Marijan yang terkenal mudah bergaul dan tidak membedakan orang dari stratifikasi sosialnya juga memberi indikasi bahwa ia sangat sosial daripada individual. Ketika orang-orang berkunjung ke rumahnya, di ruang tamu itu telah terhidang berbagai kue-kue kering dan minuman mineral gelas. Dengan tanpa basa-basi, mbah Marijan berkali-kali mempersilahkan orang-orang berkunjung untuk mencicipi dan melepas dahaga mereka di rumah mbah Marijan tersebut. Padahal, anak kandungnya yang juga sudah mempunyai cucu di bagian belakang rumah itu berdagang makanan kecil dan minuman. Tampaknya mbah Marijan mempunyai kearifan tersendiri bahwa dagangan anaknya dan makanan atau minuman suguhannya yang gratis mempunyai bagian-bagian tersendiri.

3.4 Kelenturan Sikap (Jangan Terlalu Disiplin)
Ada satu filosofi mbah Marijan yang berulang kali ia sampaikan pada peneliti dan teman-teman pembantu bahasa, yaitu agar sikap kita tidak terlalu kaku alias lentur. Jika kita fleksibel, orang akan banyak senang sehingga banyak teman, tetapi jika kita kaku, ketat pada sesuatu hal, maka orang tidak akan senang akibatnya sedikit teman.
Berdasarkan pengalaman pribadinya, Marijan muda pernah belajar agar ketat menjaga disiplin. Waktu itu ia berjalan membawa dagangannya ke pasar Pakem yang jauhnya kira-kira 4 jam jalan kaki. Di tengah jalan ada orang menawarkan untuk naik sepeda motor, tetapi Marijan menolaknya. Ia ingin konsisten bahwa dari rumah sampai pasar Pakem harus berjalan kaki. Sesampai di pasar, beberapa lama setelah dagangannya laku ia pun pulang ke desa Kinahrejo kembali dengan berjalan kaki. Di tengah jalan beberapa orang juga menawarkan tumpangan untuk naik kenderaan mereka, tetapi dia berusaha untuk kukuh pada pendiriannya. Orang-orang yang menawarkan tumpangan gratis itu terkesan kurang senang terhadapnya karena berkali-kali ditolaknya. Anehnya menjelang beberapa kilometer dari rumahnya, anak lelakinya lewat dan mengajak naik sepeda motor bersamanya. Kali ini dia tidak dapat mengelak, dan ia bersedia dibonceng. Kami bertanya, “Mbah kenapa berubah pendirian?”. Jawabnya singkat, kalau saya tidak ikut, masyarakat akan bertanya-tanya apakah dia dan anaknya mempunyai masalah atau konflik. Nanti malah akan menjadi fitnah. Untuk menghindari cerita semacam itu saya harus menunjukkan akur dengan anak saya.
Dari ilustrasi di atas jelas bahwa ketidaklenturan akan mengurangi keakraban dengan teman. Teman bisa menjadi sedikit. Ketidaklenturan sikap juga akan mempengaruhi tanggapan orang lain terhadap hubungannya dengan anggota keluarganya. Oleh karena itu, sikap lentur justru akan memperbanyak teman, simpulnya.

3.5. Andhap Asor
Kerendahan hati mbah Marijan bukan pengalaman yang diceritakannya, melainkan sikap hidup yang ditunjukkan kepada para tamu dan masyarakat lainnya, seperti kami dapatkan informasi dari orang lain di desa Kinahrejo itu. Kepada tamu yang hilir mudik, dia selalu minta maaf jika ada kata-kata atau penerimaan yang kurang pantas. Walaupun orang memandangnya sebagai figur publik, bahkan selebritis baru, Marijan tetap seperti dulu. Dia tidak menunjukkan bahwa dia orang terkenal apalagi menunjukkan kesombongan. Buktinya dia menerima siapa saja yang ingin berkunjung ke rumahnya tidak peduli pejabat, orang biasa, dan sebagainya.
Ketika peneliti menyampaikan di awal-awal pertemuan bahwa ia tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik, Mbah Marijan ternyata tidak mempermasalahkan. Dengan berguyon, ”Nggak apa-apa seperti campur sari, siji loro, setunggal-kalih, katanya. Mbah Marijan sebenarnya adalah sosok yang welkom terhadap orang lain, termasuk jika tidak bisa berbahasa Jawa.

4. Penutup
Murid mbah Marijan yang sekarang dikenal akrab dengan panggilan mbah Pujo, pernah mengatakan kepada anak-anak mbah Marijan, ”Jika kamu bisa seperti ayahmu, hidupmu sudah enak dan tenteram”, katanya. Bahkan nasihatnya, ”Jika tidak bisa 100 persen, dua pertiganya saja sudah baik.” Nasihat mbah Pujo ini berangkat dari pengalaman bergurunya dengan Mbah Marijan. Kata-kata itu terasa dalam, menyiratkan begitu banyak pelajaran yang sebenarnya belum tergali dalam tulisan ini.
Selain itu, gambaran bahwa priyayi merupakan status kelas sebagaimana dikemukakan di awal tulisan ini dapat dibenarkan. Pertama, dalam pandangan masyarakat Kinahrejo, Marijan adalah sosok yang dihormati dan terpandang walaupun gap ekonomi antarsesama mereka hampir tidak ada. Artinya, secara emik bagi masyarakatnya Marijan menyandang status kelas. Pendapat ini mungkin bisa berbeda jika dipandang secara etik karena ukuran yang diberikan berbeda. Kedua, gambaran bahwa kepriyayian ala Marijan merupakan pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi sangat jauh panggang dari api. Kepriyayian Marijan sebaliknya justru menunjukkan jiwa kerakyatannya, kommunal, nonelitis, dan nonbirokratis. Siapa saja bisa bertemu dan bersahabat dengan Marijan. Terakhir, priyayi bagi Marijan tampaknya juga bukan sebuah gaya hidup. Falsafat Jawa ”Hidup bukan mencari harta benda tetapi mencari kemuliaan (golek jeneng mboten golek jenang)” merupakan prinsip yang dipegang teguhnya. Agaknya, priyayi bukan tujuan, tetapi salah satu media kemuliaan. Sebuah interpretasi.

***


Keterangan Gambar:
Gambar 1: Desa Kinahrejo
Gambar 2: Di atas lava dingin 1 km dari desa Kinahrejo
Gambar 3: Suasana bertamu terbatas di ruang utama di rumah Mbah Marijan
Gambar 4: Suasana bertamu massal di pendopo depan rumah Mbah Marijan
Gambar 5: Fanatisme masyarakat terhadap status Mbah Marijan sebagai presiden Merapi
Gambar 6: Sesaat sebelum pamitan dengan Mbah Marijan




[1] ) Tulisan ini merupakan sebagian catatan hasil observasi lapangan dan wawancara, bukan dalam bentuk analisis dari penelitian tentang kepriyayian Jawa nonbangsawan yang didanai oleh PSAP UGM Yogyakarta (Juni-November 2006).