Pengalaman 2 minggu pertama saya turun ke lapangan penelitian secara teknis sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi secara kebudayaan mungkin ada yang mengejutkan. Sebagai perantau yang telah 11 tahun tinggal di tanah Jawa, saya mulai terbiasa, mungkin juga agak akrab dengan kehidupan di Yogyakarta. Namun demikian, sebagai orang Mandailing yang besar di bumi Lancang Kuning, Riau, ketika saya mulai melihat, memasang telinga, memperhatikan, mengajak bicara, maka di situ saya melihat keberagaman budaya. Terutama tentang kebangsawanan atau kepriyayian, secara pribadi saya mulai terkesima, tetapi saya akui orang lain mungkin saja tidak. Mengapa? Karena sejumlah tanda-tanda, simbol, nilai-nilai budaya yang saya lihat bagi orang lain terutama bagi mayoritas orang Jawa di Yogyakarta bukan sesuatu yang baru lagi. Bagi sebagian besar mereka kebudayaan itu menjadi bagian dari perilaku sehari-hari mereka. Namun demikian, melihat sistem tanda kebudayaan itu dari perspektif pemilik kebudayaan itu sendiri menjadi ketertarikan tersendiri yang ingin saya amati di sini.
Tepat pada tanggal 3 Agustus 2006 terhitung efektif saya melakukan pengamatan terhadap fenomena kepriyayian yang berkaitan dengan simbol-simbol linguistik di dusun Malang, di kecamatan Caturharjo, Sleman itu. Sebagai tempat awal penelitian ini dilakukan, saya melihat masyarakat dusun ini disibukkan dengan persiapan menyambut HUT RI ke 61. Sebagaimana lazimnya di desa-desa, di dusun Malang juga diadakan berbagai lomba untuk orang dewasa maupun anak-anak. Dari lomba volley sampai dengan lomba makan kerupuk dipersiapkan untuk dilaporkan pada malam tirakatan, suatu malam yang diperuntukkan untuk perenungan akan masa perjuangan kemerdekaan.
Terus terang sebelum melakukan penelitian di titik pengamatan ini, saya dan keluarga baru 2 bulan pasca-gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 pindah ke dusun ini. Jadi perkenalan saya dengan penduduk lokal dan adaptasi dengan lingkungan sekitarnya sudah dilakukan sebelumnya. Sebagai warga dusun Malang, saya harus mengikuti berbagai kegiatan sosial termasuk budaya yang diselenggarakan, seperti berbagai macam kenduren, pentas seni, peringatan HUT RI, arisan, pengajian hingga kerja bakti, dan ronda malam. Kebetulan sekali, dari berbagai kegiatan sosial tersebut saya dapat membuat sejumlah identifikasi dan kategorisasi termasuk subjek penelitian yang dapat saya wawancarai.
Pengalaman menarik bagi saya adalah mengikuti ritual kenduren. Dalam literatur terbatas yang saya baca, salah satu budaya Jawa yang kental adalah ritual kenduren ini. Betul, menurut hemat saya penduduk dusun ini terlalu sering menyelenggarakan ritual ini, bermacam-macam maksud dan tujuannya. Ada kenduren yang menyangkut kelahiran bayi yang dalam wacana budaya Batak Angkola Mandailing disebut upacara siriaon, yaitu acara kegembiraan, ada pula ritual kenduren kematian yang dalam budaya ibu saya disebut siluluton, yaitu acara dukacita. Dalam rentang waktu itu, ada sekitar 4 atau 5 kali saya mengikuti acara semacam, bahkan karena saya belum pulang ke rumah ada pula besekan yang dibawakan tetangga. Katanya, di rumah Bapak Anu ada kenduren.
Karena tidak semua ritual kenduren atau selametan yang dapat saya ikuti dalam waktu terbatas ini, maka saya ingin mendapatkan informasi yang lengkap apa saja kenduren yang diselenggarakan di dusun ini. Oleh karena itu, saya merasa perlu mewawancarai tokoh adat atau budaya di sini. Ketika saya mengikuti kenduren 1000 hari kematian seorang istri sesepuh di dusun ini, saya sempat menanyakan apa betul almarhumah tersebut seorang ”Nyai”. Yang saya tahu Nyai itu sebutan guru di pondok pesantren. Tuan rumah mengatakan bahwa Nyai merupakan sebutan pada seorang wanita yang telah meninggal dunia. Tampaknya term of address ini sebagai honorifik terhadap orang yang meninggal dunia, khusus pada kaum perempuan yang terhormat.
Dua minggu telah berlalu. Saya mulai merenungkan hasil pengamatan dan sedikit wawancara yang saya dapatkan. Saya mulai membalik-balik buku yang sudah saya kumpulkan, ternyata cukup banyak buku yang telah menulis tentang topik ini baik penulis lokal maupun penulis luar. Saya mulai berpikir jika saya menuliskan ritual semacam ini berarti saya menulis ulang, sesuatu aktivitas yang kurang menarik karena kerja recycle seperti ini hanya memberi ruang interpretasi ulang pula. Hasilnya bisa saja sama atau berbeda, sangat relatif aktualitasnya.
Pengamatan saya tentang kepriyayian Jawa yang embedded dalam setiap aktivitas sosial budaya yang saya maksudkan dalam usulan penelitian ini masih kering. Interaksi-interaksi yang dimediasi oleh bahasa Jawa dan tingkatannya akan menunjukkan identitas priyayi itu sendiri. Saya teringat dengan masukan dari diskusi awal di PSAP untuk menyertakan mbah Marijan, sang juru kunci Merapi yang diangkat keraton Yogyakarta sebagai informan kunci dalam penelitian ini. Kenapa tidak, pikir saya. Walaupun mbah Marijan sekarang ini disebut orang penting karena popularitasnya yang meroket, sebagai juru kunci dan selebritis iklan, saya tetap ingin bertemu dan mewawancarai beliau. Saya akan menarik titik pengamatan dari Sleman Selatan ke Sleman paling Utara. Untuk observasi ke desa Kinahrejo tempat tinggal mbah Marijan ini mungkin perlu dipersiapkan surat pengantar kalau-kalau mbah Marijan tidak dapat menerima wawancara seperti yang saya baca dalam buku yang menulis tentang dirinya. ”Maaf, Tidak Menerima Wawancara”.
Thursday, January 1, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment