Sailal Arimi, M.Hum
Mitra Peneliti PSAP Angk II
Pak Cipto (65 th) yang lahir 1942 ini sehari-hari bekerja sebagai peternak sapi dan kambing, kadang-kadang ia ikut sebagai penjaga gerbang masuk ke lokasi wisata gunung merapi untuk pendakian atau panorama lereng Merapi. Bapak yang memiliki 3 anak dan 11 cucu ini mengaku adalah generasi ke-5 yang tinggal di desa kinahrejo ini, jika termasuk anak dan cucunya maka mereka masing-masing sudah mencapai generasi ke-6 dan ke-7. Di antara semua generasi itu Pak Cipto menuturkan tidak ada yang menempuh pendidikan tinggi karena keterbatasan biaya, walaupun keinginan untuk itu sebenarnya ada.
Selama sekian puluh tahun hidup di desa kinahrejo ini, pak Cipto merasa hampir tidak ada tradisi yang ditinggalkan masyarakatnya bahkan hingga ke generasi sekarang. Dia menuturkan bahwa kebiasaan dan pandangan-pandangan hidup di merapi yang sekarang ini mereka anut pada prinsipnya berasal dari nenek moyang mereka. Berbagai kebiasaan dan pandangan itu merupakan cara hidup mereka untuk menyeimbangkan alam, mengharmoniskan hubungan alam dan manusianya. Mereka percaya pula bahwa manusia yang nyata mempunyai kerajaan dengan pemerintahannya sendiri, dan alam sekitarnya juga termasuk gunung merapi. Di atas gunung merapi terdapat kerajaan dengan rakyat dan penguasanya. Sang penguasa yang memerintah di atas gunung merapi dipercayai adalah Kyai Sapu Jagad. Kyai Sapu Jagad itu digambarkan sebagai sebagai penunggu yang duduk di singgasananya di kerajaan Merapi. Menariknya kerajaan alam gaib ini memiliki hubungan baik dengan kerajaan Mataram terutama sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX (atau sebelumnya?). Komunikasi antarkerajaan dan antarmasyarakat nyata dan alam gaib ini berlangsung intens dan harmonis. Setiap waktu kerajaan alam gaib ini ingin mengadakan hajatan, masyarakat biasanya diberitahu lewat tamsil mimpi beberapa waktu sebelum hajatan berlangsung. Ada utusan yang datang ke mimpi orang-orang tertentu yang memiliki kelebihan. Orang-orang ini juga dipercayai dapat berkomunikasi dengan utusan-utusan gaib itu. Hajatan yang paling umum adalah peristiwa yang dipahami orang-orang awam sebagai letusan gunung, semburan lava, hembusan awan panas. Lava bagi masyarakat tradisional kinahrejo dan sekitarnya tidak pernah disebut lava tetapi dimetaforakan sebagai sampah, sebagai buangan dari pesta atau hajatan di kerajaan alam gaib itu, sedangkan awan panas disebut wedhus gembel.
Menurut penuturan pak Cipto ketika alam pantai Selatan diguncang gempa dahsyat (26 Mei 2006) yang mengakibatkan kehancuran puluhan ribu rumah dan menelan korban ratusan ribu orang diimbangi dengan letusan gunung merapi yang semburannya menghasilkan pasir jutaan kubik yang diasumsikan dapat dipergunakan untuk membangun kembali rumah yang roboh di Bantul dan sekitarnya. Sejalan dengan kepercayaan ini, seorang informan lain mengatakan bahwa sebelum kejadian gempa besar di Bantul seorang utusan telah datang membawa berita bahwa penguasa alam gaib ini murka akibat ulah manusia dan akan menggoyang bumi dan menggetarkan manusia. Walaupun dipahami yang mendapat wangsit bermimpi bahwa utusan tersebut adalah orang biasa yang datang dari kerajaan alam gaib gunung Merapi, tetapi kedatangan orang biasa itu ditafsirkan tidak biasa. Tafsirannya adalah bahwa kerajaan alam gaib merapi akan mengadakan hajatan di gunung. Dengan tafsiran klasik ini, masyarakat dipahamkan akan ada letusan atau semburan lava ke lereng gunung merapi. Walaupun berselang agak lama dari tafsir mimpi itu, kejadian letusan akhirnya juga terjadi pada 14 Juni 2006 yang menghasilkan timbunan pasir yang jumlahnya sangat banyak. Proses penyeimbangan alam berjalan dengan baik, demikian dirasakan masyarakat gunung Merapi.
Simbiose hidup alam gaib dengan alam kasat mata seperti digambarkan di atas sama persis seperti dituturkan mbah Marijan, juru kunci Merapi, yaitu orang yang ditugaskan keraton Mataram Yogyakarta untuk menjaga merapi. Sebagai juru kunci masyarakat mempercayai bahwa mbah Marijan ini memiliki kelebihan. Sebagai abdi dalem berpangkat penewu, ia berkewajiban memberi laporan dan informasi kepada Sultan sehubungan dengan aktivitas merapi termasuk secara nonkasatmata.
Pak Cipto juga menceritakan apa dan bagaimana upacara-upacara yang dilakukan setiap tahun terhadap Merapi dan lingkungan alamnya. Setiap tanggal 29 bulan Rajab upacara besar Labuhan dilakukan. Pada upacara ini dibawa sesaji ke atas gunung merapi untuk dipesembahkan kepada sang penguasa gunung. Pada bulan Zulkaedah, masyarakat sekitar kinahrejo melakukan upacara dandan kali yaitu upacara agar kali yang mengalirkan air dari gunung terus berlimpah takberkurang untuk konsumsi masyarakat. Ritual ini mereka lakukan dengan menyembelih kambing, dan membawakan sesaji hasil masakannya ke hulu kali. Dulu kambing sesembahan ini disembelih langsung di hulu kali, tetapi sekarang di rumah masyarakat di hilir. Setelah disembelih dan dimasak, masyarakat berkumpul di rumah salah seorang tokoh yang bernama pak Widji untuk mengadakan doa selamatan. Setelah ini prosesi berikutnya sesaji diantarkan ke atas hulu sungai.
Pengetahuan-pengetahuan lokal yang terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi adalah bahwa masyarakat tidak boleh menebang pohon di hutan gunung merapi. Masyarakat hanya boleh mengambil rumput yang tumbuh di sekitar hutan untuk pakan ternak. Kayu-kayu yang dapat diambil adalah kayu-kayu kering yang berasal tetumbangan pohon. Jika pohon-pohon itu tumbang karena tua atau pengaruh cuaca dan angin, masyarakat juga tidak berani mengambilnya apabila masih basah karena dikuatirkan akan dituduh menebang pohon di hutan. Oleh karena itu, pohon-pohon dan rantingnya harus betul-betul kering.
Selain itu, masyarakat sangat percaya bahwa desa kinahrejo tidak akan pernah terkena semburan atau aliran sampah merapi (baca: lava). Kepercayaan ini dilatarbelakangi dari pemahaman bahwa desa kinahrejo, kali adem merupakan halaman depan dari istana kerajaan alam gaib merapi. Seperti lazimnya sampah rumah tangga, manusia biasanya membuang sampah tidak di halaman depan, tetapi di samping kanan atau kiri bagian rumah. Oleh karena itu sisi kanan kali Krasak dan samping kiri kali Gendonglah yang menjadi tempat pembuang sampah hajatan gunung merapi. Demikianlah masyarakat gunung merapi bersikukuh untuk tidak berkenan dievakuasi ketika gunung merapi meletus atau mengeluarkan awan panas. Apakah ini sebuah mitos?
(Tulisan ini dimuat di NewsLetter PSAP UGM Edisi Juni 2008)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comment:
RITUAL TOGEL KI_PRANA LEWU
Apakah anda termasuk yang tercantung di bawah ini?
1. Di Lilit Hutang
2. Selalu kalah Dalam Bermain
3. Barang berharga Anda udah Habis Buat Judi
4. Anda Udah ke mana-mana tapi tidak menghasilkan Solusi yang tepat Jangan Anda Putus Asa
kami hanya membantu anda semua dengan Angka ritual Kami>>
angka GHOIB; singapura 2D/4D/6D/
angka GHOIB: hongkong 2D/3D/4D/
angka GHOIB; malaysia 4D/6D/8D/
angka GHOIB; toto magnum 4D/5D/6D/
angka GHOIB; laos 4D/6D/8D/
angka GHOIB; thailan
angka GHOIB; macau
angka GHOIB; sidney
angka GHOIB; korea
angka GHOIB; cambodia
Jika anda Membutuhkan Angka Ghoib Hasil Ritual Ki_PRANA LEWU
di jamin Tembus 100% Hubungi Ki_PRANA LEWU di no_0_8_2_3_4_9_3_6_5_0_4_3_ terimakasi..
Post a Comment