Thursday, January 1, 2009

FENOMENA BUDAYA BATAK DAN MINANGKABAU:SEBUAH PENGENALAN EMPIRIK

Tumbuh dalam keluarga Batak dan hidup dalam masyarakat Minangkabau agaknya memungkinkan saya untuk mengangkat tulisan ini. Ternyata, fenomena persentuhan dwibudaya atau multibudaya seperti ini tidak hanya dialami oleh saya sendiri, tetapi beribu bahkan berjuta-juta orang. Perkembangan teknologi transportasi dan teknologi global telah mempercepat mobilitas dan arus informasi antardaerah, sehingga pertemuan multietnik, kultur dan bahasa tidak hanya terjadi dalam satu negara tetapi juga sangat mungkin di luar itu. Etnik Batak dan Minangkabau hanyalah 2 sampel dari 500 lebih suku bangsa dan bahasa yang hidup dalam laboratorium alam budaya di Indonesia.

Sebenarnya persentuhan budaya yang banyak dialami orang sekarang ini tidak hanya dengan budayanya sendiri dan budaya lain sebagai pendamping, seperti Batak dan Minangkabau, bahkan lebih daripada itu. Pengenalan saya pertama memang dengan budaya Batak, di keluarga tempat saya dilahirkan. Pola pengasuhan yang teradopsi tentunya mengikuti pola Batak. Namun setelah keluar dari rumah, kebetulan wilayah yang saya tempati bukanlah wilayah kebudayaan (culture area) yang homogen, yaitu terdiri atas satu budaya, tetapi di situ hidup beraneka pemeluk budaya lain seperti Minangkabau, Jawa, Aceh, Melayu yang bahkan keanggotaan mereka hampir-hampir sama banyaknya dengan orang Batak. Namun anehnya bahasa pasar yang dipakai justru cenderung bahasa Minangkabau, seperti ditemukan di sekolah-sekolah, pasar, atau tempat bekerja. Hampir semua pendukung kebudayaan yang berbeda ini dapat dikatakan paham bahasa Minangkabau, tidak terkecuali saya. Apalagi, beruntung saya bisa beradaptasi dan belajar dengan budaya ini secara sedikit khusus hampir 6 tahun di Padang, Sumatera Barat sebelum terdampar di Yogyakarta.

Di Yogyakarta tempat bermukim sekarang ini juga saya temukan miniatur kebudayaan yang sama, bahkan lebih banyak budaya pula. Riau, tepatnya Duri, kabupaten Bengkalis sebagai wilayah asal lahir memang berbeda dari Yogyakarta, tetapi diminati banyak pendukung kebudayaan. Ternyata perbedaan itu menyuburkan Riau dan Yogyakarta sebagai destinasi orang mengadu nasib, di satu sisi Riau dijadikan tempat mengais rezeki berkat tambang minyaknya, di sisi lain Yogyakarta dijadikan tempat menambang ilmu berkat status kota pelajarnya.

Kendatipun migrasi budaya kerap terjadi, darah kebudayaan (genealogis) saya tidak dapat dipungkiri. Cara berpikir bisa saja Minangkabau, Melayu, atau Jawa, tetapi keturunan tetap saja Batak. Dari pertemuan-pertemuan budaya ini, saya mencoba mengkhususkan diri pada budaya Batak dan Minangkabau karena kedua kebudayaan ini memiliki banyak kekhasan dalam pemahaman saya. Permasalahannya adalah apakah dapat kita runut seperangkat nilai penting dari kedua budaya ini untuk memecahkan persoalan yang lebih besar dalam konstelasi kenegaraan (states). Artinya, kebudayaan-kebudayaan lokal dapat memainkan perannya dalam merespresentasikan Indonesia dari sudut pandang luar di mana Indonesia dilihat sebagai negara yang multikultural, multietnik, dan multibahasa, bukan sama sekali disatukan sebagai satu kebudayaan yang pernah diagungkan sebagai kebudayaan nasional atau nasionalisme kebudayaan.
Reinterpretasi terhadap terminologi kebudayaan nasional itu sudah sepatutnya diajukan. Istilah kebudayaan nasional itu tidak hanya mengukuhkan dominasi satu kebudayaan tertentu dalam tatanan kenegaraan tetapi juga berdampak negatif pada subordinasi kebudayaan-kebudayaan lain yang posisinya juga dijamin oleh UUD. Sejalan dengan pandangan ini, seorang budayawan sekaligus sastrawan besar, Mochtar Lubis ) menandaskan nasionalisme kebudayaan itu justru melahirkan neofeodalisme, lemahnya kreatifitas, etos kerja yang buruk, dan budaya tidak tahu malu. Buah pemikiran ini tidak hanya kita saksikan hari ini tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan berbangsa kita. Pengamatan saya justru menambahkan bahwa ekses kemunafikan, neofeodalisme, dstnya itu telah mengembangkan kita sebagai bangsa dan negara yang memiliki budaya utang, budaya sampah dan loak (second class), budaya mengemis, budaya antikualitas, dan budaya korup.

Pengenalan empirik saya terhadap kedua budaya Batak dan Minangkabau ini berupaya sedikit banyak menyumbangkan pemikiran nilai-nilai budaya yang memiliki cita rasa yang sudah tentu vis-a-vis dengan budaya neofeodalisme, lemah kreativitas, dst itu seperti yang diformulasikan Mochtar Lubis di atas.

(Bersambung.... Tulisan ini 15 halaman spasi rangkap, yang tertarik dapat hub penulisnya)

No comments: