Thursday, January 1, 2009

BENARKAH FALSIFIKASI KARL POPPER?

[Siapa Karl M. Popper]
Karl Raimund Popper, begitu nama lengkapnya, meninggal dunia pada tanggal 17 September 1994. Popper, doktor filsafat yang pernah menganut Komunisme-Marxisme menuju tempat peristirahatannya yang terakhir di London. Dunia keilmuan dan kebudayaan sungguh merasa kehilangan dia. Kecemerlangan pemikirannya sungguh langka sebagaimana terlihat pada penguasaannya di bidang kesusasteraan, seni-musik, fisika, kedokteran, matematika, psikologi, sosiologi, ekonomi, politik dan filsafat. Penguasaannya ini membuktikannya sebagai seorang yang anti vak-idiot, orang yang anti atas arogansi suatu ilmu tertentu. Artinya bahwa ia mengakui satu ilmu tidak memadai tanpa ilmu yang lain. Bahkan, tidak mengherankan kiranya Tommy F. Awuy (1994) menyebut Popper sebagai filsufnya para filsuf dalam sejarah perkembangan pemikiran keilmuan.


[Teori Falsifikasi Popper]
Pemikiran Popper yang kontroversial tentang cara kerja ilmu pengetahuan benar-benar menjadi materi perdebatan, pendukungan dan pembantahan sepanjang dekade belakangan ini. Dialah yang mencetuskan teori falsifikasi sebagai lawan dari cara kerja verifikasi ilmu pengetahuan. Jika kita runut ke belakang sejak munculnya ilmu pengetahuan modern maka hampir tiga abad lamanya para ilmuwan menganggap bahwa metode verifikasi seolah-olah sudah merupakan suatu postulat.

Ilmu pengetahuan yang berdiri di atas dogma verifikatif bagi Popper ilmu itu justru telah kehilangan daya rasional-kritisnya (Schilpp via Awuy, 1994: 5). Dalam rangka konsekuensi keyakinan positivisme Popper menjungkirbalikkan metode verifikasi dengan metode falsifikasi. Menurutnya, cara kerja ilmiah bukanlah bagaimana sebuah pernyataan dapat dinyatakan benar, melainkan bagaimana pernyataan itu dapat dikatakan salah.

Popper akhirnya sampai pada pendirian bahwa di dalam dunia keilmuan, kita senantiasa berhadapan dengan persoalan antara subyek dan obyek dan tidak bisa tidak kita sebenarnya langsung berhadapan dengan masalah. Dari sini ternyata kelirulah prinsip verifikasi yang mendasarkan teori ilmiahnya pada observasi-induktif.


[Falsfikasi pada Epistemologi Ilmu Pengetahuan]
Atas dasar logis apakah ilmu pengetahuan itu dapat berkembang? Jawaban Popper ialah pada sifat rasional dan empiris ilmu pengetahuan itu, dan sifat ini hanya dapat dijelaskan lewat epistemologi. Dari pendekatan epistemologi pulalah kita dapat mempersoalkan kata kebenaran di dalam ilmu pengetahuan. Pembahasan tentang kebenaran ilmiah Popper ini menambah memperjelas maksud falsifikasinya. Namun jawaban Popper di atas tadi agaknya mengingatkan kita pada gagasan kritisisme Immanuel Kant yang mana ia menggabungkan hal yang bersifat rasional dan empiris (Lih.. Sri Boediya, SKI, 611: 16:17).

Kebenaran dalam konteks falsifikasi jelas berbeda dengan kebenaran menurut kaum verifikasionis. Kebenaran tidak ditempatkan secara obyektif dalam arti bagaimana kita dapat meraihnya dalam pengujian empiris, tetapi kebenaran merupakan sebuah masalah (problem setting). Sebagai sebuah masalah, kebenaran senantiasa menyertai usaha pemecahan masalah (problem solving) itu, dalam arti bahwa kebenaran di sini terkait erat dengan logika falsifikasi terhadap isi atau derajat informasi dari pernyataan-pernyataan empiris. Pada akhirnya, sesuai dengan tesis bahwa ilmu pengetahuan dengan dasar rasionalitas empiriknya menentukan perkembangan ilmu secara terus menerus, maka kebenaran pun tidak memiliki pretensi kebenaran, maka pretensi teersebut harus diantisipasi dengan kesadaran bahwa kegiatan ilmiah hanya sanggup melangkah mendekati kebenaran atau menyerupai kebenaran (verisimilitude).

Kebenaran dalam kegiatan ilmiah hanya berlaku sepanjang sebuah teori belum berhadapan dengan sebuah teori tandingan. Dalam hal ini keberlakuan teori tersebut oleh Popper dinamakan corroborated. Tetapi ketika sebuah teori baru sebagai tandingan dapat mengajukan informasi-informasi empiris yang derajatnya lebih tinggi daripada teori yang tadi itu maka teori tersebut dapat dinyatakan SALAH. Tidakkah pernyataan ini mengingatkan kita pada revolusi yang terjadi di bidang linguistik? Ketika lahirnya teori baru Noam Chomsky (1957) tentang tata bahasa generatif yang melumpuhkan teori struktural de Saussure, Bloomfield, dll (1930an)?

Suatu hal, apabila falsifikasi berpendirian bahwa kekuatan sebuah teori terletak pada tingkat informasi empiris yang dapat dinyatakan salah, maka berarti di dalam ilmu pengetahuan kita bukannya belajar dari kebenaran-kebenaran yang ada, melainkan belajar dari kesalahan-kesalahan, demikian falsifikasi ini.

Apabila teori falsifikasi itu kita bawakan kepada prinsip hidup orang Indonesia, entah mana duhulu ayam atau telurnya, sesungguhnya kita dekat dengan frasa atau sebutlah adagium “kegagalan adalah awal keberhasilan”. Bagaimanapun dengan memakai teori falsifikasi itu sendiri dapat diinversikan bahwa teori falsifikasi yang mencari kebenaran itu adalah salah.

Kalau kita ingin menoleh pada linguistik kembali sesungguhnya teori falsifikasi bukanlah suatu realitas yang baru. Dalam nuansa falsifikasi dalam ilmu bahasa itu lebih bersifat metodologis. Tidakkah hal itu serupa dengan adanya kalimat-kalimat affirmatif yang dinegasikan menjadi kalimat-kalimat negatif? Suatu dikotomi bukan. Istilah ini umum disebut ilmuwan sebagai metode oposisi biner (binary opposition).


[Falsifikasi dan Genesis ilmu Pengetahuan]
Yang menjadi masalah sekarang ialah bahwa teori falsifikasi itu bisa salah dan tidak valid. Kevaliditasannya hanya pada unsur-unsur struktur epistemologis saja. Sebaliknya justru tidak berlaku pada unsur yang fundamental. Teori falsifikasi hanya berkotak-katik pada perkembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi ia terbentur pada GENESIS, kelahiran ilmu pengetahuan (baru). Mengapa? Karena suatu pengetahuan (baru) bisa saja tidak berkaitan dengan verifikasi atau falsifikasi. Tidak ada yang dibenarkan dan tidak yang disalahkan. Yang ada hanya sebab kelahiran. Sehingga kita bisa belajar dari sesuatu yang tidak benar atau sesuatu yang tidak salah. Apabila kita belajar dari kebenaran dialah teori verifikatif dan di pihak lain apabila kita belajar dari kesalahan demikianlah teori falsifikatif itu.

Lahirnya ilmu baru tandas tidak ada kebenaran dan tidak ada kesalahan. Sekadar anaolgi mungkin ada. Sebagai contoh, di bumi, kita mengenal ilmu yang mempelajari tentang bumi itu sendiri, baik letak, potensi serta pemetaannya, disebut geografi. Andaikan manusia telah bisa menembus dimensi ruang dan waktu untuk mencapai matahari tanpa lebur ke dalamnya, tentunya ilmuwan akan dapat memerikan seluk beluk matahari ini seperti halnya bumi tadi. Ilmu yang mempelajari tentang matahari ini berikut saya sebut heliografi. Rasanya terlalu berlebihan untuk mengatakan metode penelitian geografi sama dan sebangun dengan metode penelitian heliografi yang super panas itu. Sehingga tidak ada kebenaran geografi yang sekaligus tidak ada kesalahannya mengawali pengamatan heliografi ini. Akhirnya, dalam konteks kelahiran ilmu ini adakah peluang teori ‘kesalahan’ itu justru benar?


DAFTAR PUSTAKA
Awuy, Tommy F, 1994. “Karl Raimund Popper: Sang Filsuf Anti-Dogmatisme itu telah Pergi”. Majalah Horison 09/XXIX/4-8. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta, Indonesia.
Boediyah Soeharto, Sri. Tnp Tahun. “Filsafat Ilmu Pengetahuan. Handout SKI 611. Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM.
Chomsky, Noam, 1957. Syntactic Structure, London: The Hague.
Saussure, Ferdinand de, 19--, Introduction to general linguistics.

2 comments:

Mahyudin Damis said...

Saya tidak sependaat jika teori "lama" (belum munculnya teori baru sebagai tandingan)dinyatakan SALAH, tapi saya lebih setuju jika disebut "LEMAH", sebab kebenaran dalam kegiatan ilmiah hanya karena adanya "KESEPAKATAN" para ahli sepanjang teori tsb belum diperhadapkan dengan sebuah teori tandingan, mas..!!!

sailal arimi said...

terima kasih bang udin. Popper mengemukakan teori falsifikasi ini untuk mengujikan satu teori yang muncul. lazimnya peneliti memverifikasi teori yang ada, cari data hubungkan dgn teori lalu disimpulkan sesuai dengan teori. berarti benar teorinya. yang ini disebut verifikasi. lain halnya dengan popper, yg perlu kita lakukan adalah falsifikasi. harus dicari argumen yang lebih kuat sehingga teori lama bisa ditinggalkan. upaya menyalahkan ini sangat positif untuk melahrikan byk konstruk teori.
Pandangan saya dalam artikel itu, kita bisa menerima verifikasi dan juga falsifikasi sebagai metode pengujian teori. tapi keduanya tidak diperlukan ketika ada objek kajian baru muncul seperti ilmu tentang matahari, heliografi.